CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Jumat, 26 September 2014

When you don't get what you want....

Assalamu'alaikum, saudara seperbloggeran! Udah lamaaa banget aku nggak ngepost, udah 3 tahunan kurang kali ya? Hehehe, kangen aku nggak? Kangen kan pastinya? Makasih, makasih.

Kenalin temen-temen semua, nama aku Hanifah Nurul Izzati, bagi yang udah kenal, ayo kita kenalan lagi. FYI, sekarang umur aku udah 15 tahun. Kalo misalnya dulu aku ngepost banyaak banget cerita pas lagi masa-masa imut yaitu kelas 7, sekarang aku udah rada gedean.. aku udah kelas 10 loh! Hehe.  Attention, guys! I'm a senior high school student B) 3 tahun yang penuh makna, penuh dengan berita, cerita, juga derita-udah aku lewati dengan sepenuh jiwa. Aku dapet banyak pelajaran selama 3 tahun ini, dan setidaknya masa-masaku di SMP menginspirasiku untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Setiap orang tak luput dari cobaan dan tantangan kehidupan. Begitu pula aku. Sometimes what you want is not the best way. Asoy....

Galau amat sih, Nipah.. mau tau kenapa? Klik read more-nya dong, hehe.
Sekarang kan aku udah SMA, ya. Jadi, sekarang gapapa dong kalo ngomongin cinta? Hahay. #selangkahlebihmaju

Bloggers...
Pernah ga, ngerasain yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan? Mungkin sebagian besar dari kita pernah mengalami itu. Tapi tergantung frekuensinya. Ada yang jarang-jarang, ada yang kadang-kadang, ada yang sering-sering, dan... ada yang selalu-selalu(?). Tapi, pernahkah kita merenung, kenapa sih orang yang kita suka nggak suka sama kita? Atau kenapa sih kita tuh ngejones ngejomblo terus? Praduga-praduga semacam ini mungkin pernah terlintas di pikiran kalian, terutama kaum hawa:

"Gue jomblo, apa karena gue sleboran ya?"
"Gue jomblo, apa karena gue borokan ya?"
"Gue jomblo, apa karena gue kurang berkarisma ya?"
"Gue jomblo, apa karena gue ga cantik ya?"
"Gue jomblo, apa karena gue sering ngupil ya?"
"Gue jomblo, apa karena orang yang suka sama gue suka sama Nipah semua ya? :)"

Dari pertanyaan-pertanyaan itu, yang bisa diterima kayaknya cuma pertanyaan keenam deh. HAHA! Ehm-_- tapi, pernahkah kita memikirkan praduga lain selain itu?


Yaitu:


"Mungkinkah Allah punya rencana yang lebih baik?"

Asooy. Sebenernya sih inti dari postingan ini bukan mau ngomongin cinta, tapi berhubung udah SMA, gapapalah pake intro cinta-cintaan. Biar pada semangat gitu.


(?)



Oiya, inget ga postingan aku waktu dulu? Tentang cita-cita aku? Tapi sekarang udah aku hapus sih, karena nggak lulus sensor. Buat ngereview aja nih, aku dulu pernah ngepost... isinya tujuan-tujuan sekolah aku setelah lulus SD. 

Sebenernya, aku ngerasa pilihan yang aku tetapkan suka nggak terwujud..
Dulu pas lulus TK, aku gamau sekolah di SDIT Ummul Quro, maunya di SDIT Aliya. Tapi takdir mengharuskan aku buat sekolah di UQ.
Dulu pas lulus SD, aku gamau sekolah di SMPIT Ummul Quro, maunya di SMPN 4 Bogor. Tapi takdir mengharuskan aku buat sekolah di UQ (lagi).
Dan ketika lulus SMP.. jengjengjengjeng. Inilah ceritanya...


Sejak SD, aku kepengen banget yang namanya sekolah di SMAN 3 Bogor kelak ketika aku udah lulus SMP. Kalo gapercaya, tanya aja temen-temen aku plus guru-guru aku di SMP(?). Memasuki kehidupan SMP, aku mulai berjuang untuk ngebagusin nilai rapor dari kelas 7. Ceritanya biar kalo masuk SMA dinilai dari rapornya, aku udah lumayan tenang karena udah berusaha dari kelas 7.

Tapi ternyata, ketika aku udah kelas 9, kebijakan dinas Kota Bogor berubah. Untuk masuk SMA negeri, ternyata menggunakan NEM murni. Sejak mengetahui kabar itu, tentunya aku merasa kecewa, karena kerja keras aku selama ini tidak menjadi faktor penentu masuk SMA negeri. Padahal angkatan di atas aku, pake nilai rapor dari semester 1-4. Selain itu, aku juga udah mulai panik, karena sangat sulit buat aku yang namanya dapet NEM bagus.

Hari demi hari berganti. Pada akhirnya, UN pun dilaksanakan. Jujur, ngejalanin UN itu kerasa berat banget. Aku aja ampe mikir: "Masuk SMA mana coba aku nanti?" Setelah UN dilaksanakan, bukannya lega, aku malah deg-degan. Sieun teu masuk SMAN 3. Akhirnya dari situ, aku perbanyakin sholat tahajjud, tilawah, dan amal-amal ibadah lainnya.

Dan pada akhirnya, sampailah pada hari Sabtu, 9 Juni 2014. Yap, H-1 perpisahan. Hari di mana anak-anak SMP UQ kelas 9 sedang melakukan gladi bersih di Braja Mustika. Hari di mana hasil UN diumumkan.

Pukul setengah 6 sore, anak-anak SMP UQ mulai dibagikan amplop dan form tanda tangan setelah kegiatan gladi bersih usai. Inget banget deh, reaksi temen-temen setelah dapet amplop. Ada yang mulai keliatan ngedown, ada yang mulai senyum-senyum gajelas, ada yang teriak-teriak penasaran, ada yang udah mulai nelpon orang tuanya minta doa, ada yang udah nangis duluan, ada yang keringetan (karena gerah/?) dan lain-lain. Dan akhirnya, terdengarlah sebuah instruksi dari guru.

"Ayo, anak-anak. Mari buka amplopnya dengan mengucap basmalah. Bismillahirrahmanirrahiim."

Satu persatu anak akhirnya mulai membuka amplop. Aku nangis. Bukan, bukan karena ngeliat hasilnya. Tapi aku nangis karena amplop aku belum aku buka-buka. Satu persatu temen-temen aku yang udah buka amplop mulai nangis dan peluk-pelukan sama temen-temennya (kecuali yang ikhwannya ya). Ada yang udah sujud syukur, ada yang nelpon orang tuanya ngasih tau NEMnya berapa, ada yang loncat-loncat gajelas, ada yang senyum penuh haru, dan sebagainya. Sedangkan aku, cuma bisa ngeliatin. Aku juga pengen peluk-pelukan:(

Akhirnya, aku ikutan buka amplop. Bismillahirrahmanirrahiim...
Kubuka lem yang merekatkan amplop itu. Kubuka lipatan yang menutupi angka-angka berharga yang akan abadi di SKHUN nanti. Dan pada akhirnya, kubaca isi kertas itu.

**,** Yap, itulah NEMku(?). Entah kenapa, hati aku tergerak buat sujud syukur. Aku nangis. Dalam sujudku, kulafalkan doa-doa. Suasana Braja Mustika penuh dengan keharuan. Ya Allah, inilah hasil dari kerja keras kami.. yang kami dapatkan dari hasil usaha kami sendiri, tanpa menyontek, tanpa mencari kunci jawaban, dan tanpa bekerja sama dengan teman yang lain. Tapi, entah mengapa aku bertambah waswas. Karena menurutku, NEM-ku belum bisa aman di SMAN 3. Akhirnya kutelpon ibuku dan kuberitahu berapa NEM-ku.

Adzan maghrib berkumandang. Dengan segera, anak-anak SMP UQ kelas 9 melaksanakan sholat maghrib, setelah itu pulang ke rumahnya masing-masing.

Ketika dalam perjalanan pulang, ibuku habis-habisan menasihatiku. Ya, memang dulu aku pernah bandel. Sering banget yang namanya bolos bimbel, bahkan sampai berhenti. Sampai sekarang kebiasaan itu terus berlanjut malahan, hahaha. Dan yap, penyeselan itu selalu datang belakangan.

"Kenapa NEM-nya cuma segini?" tanya ibu.
"Gatau atuh," jawabku seadanya, sambil menahan sedih.

"Kalo tau gini mah ga ibu izinin berhenti bimbel.

Kurang apa coba orang tua? Mau berhenti, diizinin. Soalnya kalo nggak diturutin melanggar HAM. Yaudah, mau gimana lagi? Pasrah aja sekarang mah.

Orang mah susah pengen bimbel di sana, dulu ibu bilang, buktikan aja kamu nggak bimbel bagus atau nggak nilainya. Sekarang apa? Mau aman mah NEM 37 atau 38, masuk SMA mana aja bisa.

Yaudah sekarang tinggal nunggu keajaiban aja. Dikasih keajaiban atau nggak."

Aku menangis lagi. Sedih. Kecewa. Tapi bagaimanapun juga, aku harus bersyukur dan menerima dengan ikhlas apa yang sudah aku perjuangkan, sebelum Allah mencabut kenikmatan itu. Mungkin aku yang salah, karena terlalu sombong. Mungkin aku yang salah, karena membangkang perkataan orang tua. Mungkin karena aku yang salah, karena berpikir pendek.

Tapi begitulah orang tua.
Meskipun sering sekali dikecewakan oleh anak-anaknya.
Dilukai hatinya.
Tapi mereka selalu berdoa untuk kita, untuk keberhasilan kita.

Hari-hari berganti. Usai perpisahan, PPDB online pun dimulai. Yang namanya PPDB online tuh.. haaaahhh, deg-degan banget, spot jantung. Apalagi Ummul Quro yang statusnya adalah sekolah di kabupaten, cuman dikasih 1 pilihan. Wow. Kebayang kan, gimana waswasnya kita.. heuheu. Setiap hari, aku dan orang tuaku selalu memantau perkembangan siswa-siswi yang statusnya diterima sementara di SMAN 3. Semakin bertambah hari, semakin tenggelem aja status anak yang NEM-nya sama denganku. Ibuku tak henti-hentinya berdoa dan beribadah pada saat itu.

Semakin lama, posisi anak-anak yang daftar di SMAN 3 semakin tidak aman. Bahkan, mereka sudah berada pada zona merah. Aku sedih sekali.

Gimana sih rasanya kalo impian kalian ga tercapai?
Gimana sih rasanya kalo kalian harus ngedapetin apa yang ga kalian pengen?

Pada akhirnya, ibuku mengunjungi situs-situs SMA negeri yang ada di Bogor. Dan sampailah pada situs

http://sman2kotabogor.sch.id/

Ibu menunjukkan siswa-siswi di SMAN 2 Bogor yang diterima di Universitas Negeri lewat jalur undangan tahun 2014. Ada 90 orang.

Akhirnya setelah sholat istikhoroh, kumantapkan hatiku untuk mengubah haluan. Ya Allah, mudah-mudahan ini yang terbaik. Aku bukan anak SMAN 3. Aku anak SMAN 2.

Singkat cerita, alhamdulillah aku diterima di SMAN 2 Bogor.

Dan mungkin, inilah salah satu pengorbanan cintaku. Cinta kepada SMAN 3 yang harus aku pupuskan.
Inilah salah satu pengorbanan cintaku. Mencoba mencintai SMAN 2, sekolah yang akan mendidikku selama 3 tahun ke depan.
Mungkin inilah salah satu rencana Allah. Mungkin bagi Allah, inilah jalan yang terbaik untukku.

Dan akhirnya, setelah pendaftaran ulang, mengikuti MOPDB, kujalani hari-hariku di SMAN 2 Bogor. Aku tergabung di ekstrakulikuler DKM dan Rhineka. Yuk bagi ade-ade yang mau masuk smanda (sebutan untuk SMAN 2), masuk DKM sama Rhineka yaaa, biar ketemu aku:3 ihih. Udah dulu, ya!

Intinya...
Don't be sad when you don't get what you want, cause Allah has so much better plans for your life.

Tidak ada komentar: